Pengkhotbah

Perikop
Galatia 5:22-23

Ringkasan Khotbah

Penguasaan diri awalnya ditujukan untuk tidak mencampuradukkan kepentingan diri dalam kekuasaan, mendisiplinkan diri seperti atlit, dan tidak berhubungan seksual sembarangan.  Arti lain dari penguasaan diri adalah mampu mengarahkan diri kita dan mampu melarang diri kita untuk tidak melakukan sesuatu khususnya yang berkaitan dengan nafsu.

Buah Roh adalah hasil karya Roh Kudus dalam diri kita. Roh Kudus menanamkan dan juga menumbuhkan buah Roh. Kalau kita melupakan hal ini, maka akan terjadi legalisme yaitu hidup seperti berdasarkan Taurat. Jadi hal yang paling utama adalah hidup taat kepada pimpinan Allah Roh Kudus, yaitu:

  1. Kita harus mendengar suara Roh Kudus dan mengikuti apa yang Ia perintahkan. Masalah utama adalah bukan Roh Kudus tidak mau berbicara kepada kita, tetapi kita yang tidak mau mendengar suara Roh Kudus (kita terlalu sibuk mendengar suara-suara lain). Kita harus mengambil waktu khusus untuk mendengar suara Roh Kudus. Jadi kita membutuhkan waktu yang teduh, tenang, dan tidak terganggu dengan suara-suara yang lain. Kita juga harus membiasakan diri untuk taat kepada suara atau pimpinan Roh Kudus tiap hari. Ini bukan hanya berlaku untuk “penguasaan diri” saja, tetapi untuk semua “Buah Roh”.
  2. Kita diminta berjuang keras bersama Roh Kudus untuk melakukan sesuatu. Nats pembimbing hari ini (Titus 2:6) menyatakan bahwa kita harus menguasai diri dalam segala hal. Caranya, kita membuat dan menepati komitmen, sehingga kita mampu menguasai dan melarang diri. Jadi, komitmen dibuat untuk dilakukan dengan mempelajari komitmen tersebut agar bisa dilaksanakan. Buatlah 2-3 komitmen di tahun ini yaitu kita pertama berlatih dengan membuat komitmen dalam jangka pendek (bulanan). Contohnya, komitmen di bulan Januari dalam hal:
    • olahraga ringan,
    • nafsu makan,
    • berdoa puasa sebulan atau seminggu sekali (menggunakan waktu puasa untuk berdoa),
    • nafsu keuangan/cinta uang dengan memberi perpuluhan dengan penuh sukacita, dan
    • nafsu seksual dengan menjaga dan menghargai kekudusan pernikahan (tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah atau sesudah menikah dengan bukan pasangannya).

(HOL&LY/01/09)