Pengkhotbah

Perikop
Efesus 6:4

Ringkasan Khotbah

Hari Bapak Internasional diperingati setiap minggu ke-3 Juni. Maknanya adalah untuk mengenang kebaikan dari Bapak/Suami, yang dapat dilakukan melalui beberapa penghayatan:

  1. Bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan Bapak/Suami.
  2. Jika Bapak/Suami masih hidup mari kita menggunakan hari ini untuk menyatakan ungkapan terima kasih, walaupun mungkin mereka seringkali mengecewakan (Roma 12:21).
  3. Para Bapak/Suami dapat mengingat kembali janji pernikahan dan memperbaharui komitmen untuk menjadi Suami yang baik dan Bapak yang bijaksana.

Bapak yang bijaksana adalah Bapak yang (Efesus 6:4):

  1. tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anaknya (ayat 4a). Firman Tuhan ini mengajak para Bapak untuk memikirkan akibat dari tindakannya. Amarah di hati anak adalah sesuatu yang membuat anak sakit/tawar hati (Kolose 3:21) sehinga menjadi tidak semangat dalam hidup dan tidak menghormati orang tua. Bapak yang bijaksana adalah bapak yang dapat merenungkan akibat dari tidakan/kata-katanya terhadap anak-anaknya, sehingga mereka berhati-hati dalam bertindak/berkata-kata. Ada beberapa hal yang dapat membuat anak sakit hati: menuntut anak melebihi kemampuannya, menghukum/menganiaya dengan kejam ketika anak melakukan kesalahan, merendahkan/menghina anak, dan membedakan perlakuan terhadap anak dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Hal-hal tersebut dapat membawa pengaruh yang negatif dan menghancurkan kehidupan masa depan anak. Ketika kemarahan ada di dalam diri seseorang, khususnya pada masa anak-anak, hal itu akan menjadi luka batin yang sulit disembuhkan bahkan setelah anak itu sudah percaya Tuhan Yesus dan memaafkan orang tua. Mari kita ambil komitmen untuk membangkitkan semangat dan tidak membangkitkan amarah dalam hati anak. Efek dari kata-kata penguatan kepada anak dapat dilihat dari contoh Ibu dari Benjamin West (pelukis hebat dan pemimpin Royal Academy of Arts) yang menyemangati anaknya dalam melukis.
  2. mendidik di dalam ajaran dan nasehat Tuhan (ayat 4b). Dalam bahasa aslinya, ajaran artinya pembetulan kesalahan melalui pemberian displipin (tindakan). Nasehat adalah teguran. Tanggung jawab utama mendidik anak ada pada Bapak (Amsal 1:8, 4:1, 15:5), yang dalam pelaksanaannya dibantu Ibu. Hal ini sangat sulit dan menjadi masalah sosial di Jepang karena kesibukan bekerja. Mari kita berdoa supaya Tuhan membuka jalan agar para Bapak dapat pulang ke rumah lebih cepat, misalnya dengan diberi kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan pada waktunya. Ayat 4a bukan berarti tidak boleh menghukum tetapi hukuman/teguran harus dilakukan dengan cara yang tepat dan dalam konteks mendidik dan melaksanakan Firman Tuhan bukan karena kemarahan. Seperti bercocok tanam, kalau kita mendidik dengan baik, anak akan tumbuh dengan baik.

Para Bapak dapat belajar mendidik anak sesuai dengan kehendak Tuhan melalui kelompok PA, Persekutuan Doa, membaca Alkitab, berdoa setiap hari, dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika para Bapak mulai melakukan hal tersebut, anak pun akan mengalami perubahan alami karena tindakan Bapak akan direkam dan ditiru menjadi sifat/kebiasaan anak.

(ML/06/10)