Pengkhotbah

Perikop
1 Yohanes 3:11-24

Ringkasan Khotbah

Pada pasal 1, kita telah belajar mengenai anugerah persekutuan Terang, yaitu hanya oleh anugerah dan kasih karunia dari Tuhan kita dapat bersekutu dengan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Melalui pasal 2, kita belajar anugerah hidup menyerupai Kristus dengan pengurapan Roh Kudus. Dan pada pasal 3 bagian awal, kita belajar anugerah dijadikan anak Allah sehingga dapat hidup suci. Dan pada bagian kali ini kita akan belajar mengenai anugerah untuk saling mengasihi atau anugerah yang saling mengasihi. Beritu tentang kasih telah ada sejak mula dari sejak Tuhan Yesus mulai mengajar. Lebih jauh dari itu pada Perjanjian Lama (ayat 12) mengenai Kain dan Habel. Dan juga saat Allah memilih Israel sebagai umat-Nya dan memberikan hukum Taurat sebagai dasar hukum, dan juga dasar untuk mengasihi pada Imamat 19:18, Ulangan 6:5. Inilah maksud Yohanes menulis bahwa berita kasih itu sudah didengar dari mulanya. Demikian juga tercatat dalam nats pembimbing hari ini, Matius 22:37-40. Seluruh ajaran / hukum Tuhan kepada umat Israel dapat dirangkumkan dalam 2 hal yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Inilah tandanya anak-anak Allah.

Sebelum menjelaskan lebih lanjut mengenai anak-anak Allah, Yohanes menjelaskan mengenai tanda anak-anak Iblis (ayat 10): tidak bisa berbuat kebenaran, melainkan tetap berbuat dosa, perbuatannya tidak diperkenankan Tuhan sehingga akibatnya membenci orang lain, dan membunuh adik seperti Kain. Yohanes menjelaskan mengenai 2 kelompok orang yaitu anak-anak Allah dan anak-anak Iblis (disebut juga keturunan Kain). Keturunan Kain ini membenci anak-anak Allah yang hidup benar. Pada saat Yohanes menulis surat juga terdapat banyak bidat yang berusaha menyerang orang-orang yang hidup benar. Namun kita diajak oleh Yohanes untuk tidak heran / membenci orang yang menyerang kita. Tuhan Yesus sendiri berkata berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga (Matius 5:10). Demikian juga terdapat pada 1 Petrus 4:12-14.

Secara praktis bagaimana kita bisa menghadapi dan tetap mengasihi bila ada orang membenci kita? Ingatlah bahwa status kita sudah berpindah dari keturunan Kain (maut) ke anak-anak Allah (hidup baru persekutuan dengan Kristus, Bapa dan Roh Kudus), maka kita dapat hidup mengasihi dan saling mengasihi. Istilah kasih disini agape, artinya memberi. Dalam buku karangan Rick Warren berjudul The Purpose Driven Life, dijelaskan bahwa yang paling penting dalam hidup adalah kasih. Menurutnya kasih adalah (1) perintah, bukan ajakan, hakekat Allah adalah kasih dan manusia diciptakan seturut rupa Allah maka hakekatnya manusia mengasihi; (2) pilihan, bukan perasaan tapi rasio / kehendak yaitu untuk memilih mengasihi atau membenci. Maka Tuhan Yesus berkata kalau hanya kita mengasihi yang mengasihi kita, kita sama dengan dunia. Kasih perlu dilatih, walau perasaan tidak enak tetap perlu mengasihi musuh / orang yang kurang kita senangi;(3) perbuatan; (4) penyerahan. Kasih itu ditunjukkan Allah melalui pengorbanan Kristus (ayat 16). Inilah yang memampukan kita untuk mengasihi orang yang membenci kita sekalipun. Kata menyerahkan pada ayat 16 artinya meletakkan / menaruh. Tuhan Yesus terlahir di palungan dan mati di atas kayu salib, seluruh hidupnya diserahkan / meletakkan diri sebagai manusia hina dan sederhana, menderita di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia. Demikian pula kita yang sudah ditebus dan hidup baru perlu meletakkan diri sama dengan Kristus, dan bukan pada ambisi, kebanggaan, ataupun keinginan pribadi. Kita juga dapat melihat contoh dari Paulus bagaimana ia meletakkan dirinya di tengah berbagai kesulitan yang dialami (Kis 20:24, 35) yaitu pada pelayanan Tuhan.

Ada seorang Kristen yang merupakan pegawai perusahan kereta di Hokkaido bernama Nagano Masao mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan penumpang kereta yang mengalami kecelakaan sehingga begitu dihormati hingga didirikan monumen peringatan. Kita sebagai orang Kristen mungkin tidak selalu dituntut mengorbankan nyawa, tetapi harus selalu siap seperti Kristus yang mengorbankan diri dan harus memancarkan kasih Tuhan dalam perbuatan kita. Kasih bukan hanya perkataan semata-mata. Dalam bahasa Jepang ada istilah untuk menjelaskan kasih, yaitu omoiyari yang artinya memikirkan dan bertindak. Terakhir, bila kita saling mengasihi, ada anugerah dari Tuhan yaitu: 1) ada damai sejahtera dalam hati, 2) memiliki keberanian percaya untuk mendekati Allah, 3) memperoleh jawaban doa/berkat dari Tuhan, 4) Roh Tuhan diam di dalam kita (ayat 19-24). Roh Kudus dalam hati kita menghasilkan buah-buah roh dan memampukan kita mengasihi seperti definisi kasih pada 1 Korintus 13:4-7. Soli Deo Gloria.