Ringkasan Khotbah

Di dalam perikop ini, dituliskan bahwa kabar Keselamatan dikabarkan kepada orang-orang selain bukan Yahudi. Hal ini dimulai oleh kepercayaan seorang perwira Kornelius kepada Yesus. Dalam Roma 3-28-30, Allah tidak membedakan bangsa, ras, latar belakang dll dalam hal menerima Keselamatan. Yang terpenting adalah iman kita kepada Keselamatan itu. Tuhan bekerja dalam Kornelius, sehingga hidup Kornelius saleh, takut akan Allah, tulus, berkenan kepada Allah. John Owen menuliskan: Kelahiran baru bukan sekedar perubahan hidup secara moral saja. Dibutuhkan prinsip rohani yang nyata kedalam jiwa dan semua aspek kehidupannya.

Ibrani 11:6 menuliskan bagaimana agar hidup kita berkenan kepada Allah yaitu “iman”. Karena Allah tidak melihat muka dan latar belakang. Allah yang mengawali pekerjaan Keselamatan. Ia mengetok hati manusia dan berkenan menerima setiap orang yang mau datang kepada-Nya. Satu-satunya alasan Allah untuk menerima manusia kepada diri-Nya sendiri adalah bahwa Ia melihat manusia sama sekali terhilang jika dibiarkan pada dirinya sendiri, tetapi karena Ia tidak menghendakinya terhilang, Ia menjalankan belas kasihan-Nya dalam membebaskan-Nya. Allah tidak mendapati apapun dalam diri manusia kecuali kondisi yang menyedihkan untuk mencodongkan Dia pada belas kasihan. Yesus Kristus adalah Tuhan dari semua orang (ay. 36). Allah adil dalam segala tindakan-Nya dimana Ia mengadopsi setiap orang berdosa mendapatkan jalan keselamatan di dalam Kristus.

Khotbah pertama Petrus berisi:

  1. Ay. 24 artinya Allah dapat menerima siapapun yang datang kepada-Nya. Dalam Roma 2:11 dicatat “Allah tidak memandang bulu”.
  2. Ay. 25 mencatatkan: setiap orang dari berbagai bangsa yang mengamalkan kebeneran, berkenan kepadaNya. Istilah mengamalkan berarti “‘melakukan dengan komitmen”, takut akan Tuhan tidak terbatas pada waktu dan situasi tertentu.
  3. Ay 36 dengan jelas menuliskan rekonsiliasi yang dikerjakan Allah dalam diri Yesus dengan semua umat-Nya.
  4. Ay. 40-41 menuliskan Yesus telah bangkit dan menyatakan diri bagi saksi-saksi-Nya. Manusia sering memikirkan bahwa Allah sebagai pribadi yang baik hati dan kasih setia tanpa memikirkan keadilan-Nya, inilah yang menipu diri sendiri. Setelah kita menerima Keselamatan, kita harus hidup seperti apa yang diperkenan oleh Allah.