Pengkhotbah

Perikop
Roma 5:1-11

Ringkasan Khotbah

Melalui pembacaan Alkitab hari ini, kita mau belajar tentang akibat pembenaran. Kita perlu mengerti terlebih dahulu arti kata “pembenaran” itu, yaitu membenarkan (Ibrani=tsadaq; Yunani= dikaioo) yang adalah istilah hukum, artinya ‘membebaskan dari tuntutan, menyatakan benar atau tidak bersalah’. Lawan kata dari kata tersebut ialah ‘menghukum, menyatakan salah’ (bdk. Ulangan 25:1; Amsal 17:15;  Roma 8:33). Seorang yang membenarkan orang lain adalah tugas atau hak seorang hakim. Lalu apa yang menjadi penyebab ketidakbenaran itu bisa ada didalam kehidupan orang Kristen, jawabannya adalah karena adanya “dosa”, dosa telah menjadi akar dari permasalahannya. Apakah yang dimasudkan dengan dosa ini? Alkitab menggunakan beberapa istilah untuk dosa. Kata Ibrani yg paling umum digunakan ialah khatta’t ‘awon, pesya ‘ra‘; dalam bahasa Yunani ialah hamartia, hamartema, parabasis, paraptoma, poneria, anomia dan adikia. Dari beberapa istilah dosa ini menjelaskan bahwa dosa adalah setiap penentangan yang ditujukan kepada Allah.

Dosa ialah kegagalan, kekeliruan atau kesalahan, kejahatan, pelanggaran, tidak menaati hukum, kelaliman atau ketidakadilan. Dosa merupakan kejahatan dalam segala bentuknya, sebagai contoh dalam Alkitab dalam dilihat dalam Roma 1:18-32 tentang ‘Hukuman Allah atas kefasikan’, 2 Timotius 3:2-4 tentang ‘Keadaan manusia pada akhir zaman’, Galatia 5:19-21 tentang ‘Hidup menurut daging atau roh’, dst. Selain kita telah belajar untuk mengerti arti dari dosa tersebut, kita juga perlu paham akan apa akibat dari perbuatan dosa tersebut, diantaranya akibat dari dosa ini kita: ❶ Tidak memiliki damai dengan Allah, ❷ Tidak memiliki jalan masuk atau akses kepada anugerah Allah itu sendiri, ❸ Tidak mempunyai pengharapan dalam kemuliaan Allah, ❹ Maut (Roma 6:23).

Berdasarkan akibat-akibat dosa tersebut, masih dapatkan manusia melakukan pembenaran atas dirinya sendiri? Jawabannya adalah tidak, hal ini didasarkan atas Roma 3:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” . Apa yang dapat dihasilkan dari manusia yang belum mengalami pembenaran, tentunya hasilnya tidak akan membuahkan sesuatu yang baik. Kita perlu mengalami pembenaran dan itu hanya dapat dilakukan oleh Tuhan Yesus (Roma 4:25, “yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita”. Dengan mengalami pembenaran melalui Yesus, kita akan memiliki damai dengan Allah (ay. 1), memiliki jalan masuk atau akses ke anugerah (ay. 2a), merasakan sukacita karena mempunyai pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (ay. 2b) dan memiliki karakter yang dewasa (ay. 3-4).

Pembenaran ialah tindakan Allah untuk menghapus dosa orang bersalah, dan memperhitungkan dia benar – ini tindakan bebas dari pihak-Nya. Semua oleh kasih karunia-Nya, melalui iman dalam Kristus Yesus dan bukan berdasarkan kebajikan orang itu, tapi karena Yesus menumpahkan darah-Nya demi orang itu, yang telah dilakukan-Nya demi penggenapan hukum Taurat untuk mewakili dan untuk menyelamatkan orang tersebut (Roma 3:23-26; 4:5-8; 5:18).

Jadi orang percaya dibenarkan oleh Allah didalam dan melalui Dia yang secara pribadi tidak mengenal dosa, tapi sebagai yang mewakili semuanya telah dibuat menjadi berdosa (artinya, diperlakukan sebagai orang berdosa dan dihukum) untuk menggantikan posisi kita orang-orang yang berdosa yang seharusnya layak untuk menerima hukuman ( 2 Korintus 5:21).

Kristus membenarkan kita “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menebus kita.” (1 Korintus 1:30).