Pengkhotbah

Perikop
2 Petrus 3:1-13

Ringkasan Khotbah

Surat Petrus ini dialamatkan kepada orang-orang yang sudah menerima surat pertama. Surat kedua Petrus ini mengungkapkan tujuannya yang lebih luas, untuk melawan ajaran sesat yaitu gnostik yang mengancam kehidupan jemaat. Jemaat ini merupakan campuran Yahudi Kristen dan orang kafir yang bertobat. Dimana di dalamnya juga ada orang gnostik. Dari teks Firman Tuhan ini kita bisa melihat pertanyaan “adakah hari esok” yang dibagi menjadi 3 bagian besar. ❶ Jika kita bertanya adakah hari esok berarti ada pengharapan. Surat Petrus pasal pertama mengajar jemaat tentang penafsiran yang benar tentang kedatangan Tuhan/hari akhir. Kapan terjadinya tidak tahu, jadi mereka menganggap semua adalah dongeng. Ketika kita bertanya adakah hari esok dan kita meyakini ada maka kita harus tetap setia meskipun tidak tahu kapan akan terjadi. Pengajar sesat menuduh Petrus berbohong tentang kedatangan Yesus kedua kali (ayat 3-7). Mereka mengejek kedatangan Yesus kedua kali, mereka hidup sesuai hawa nafsu mereka. Bagaimana dengan pengejek zaman sekarang? Mereka menikmati hidup, tertawa, berbanding terbalik dengan kita yg merasa hidup ini berat. Apa dasar mereka mengejek? Karena mereka melihat dunia tidak berubah sejak dahulu dan mereka meragukan Allah melibatkan diri dengan dunia. Dengan banyaknya ajaran-ajaran sesat seperti demikianlah maka Petrus menekankan bahwa Firman Tuhan dapat dipercaya dan penghakiman Allah menanti orang jahat. Bagaimana respon kita yg percaya akan hari esok? Akankah sama dengan mereka yg tidak percaya? Kita percaya bahwa Allah berotoritas dalam kehidupan kita. Mencemooh keyakinan akan kedatangan Kristus kedua kali sama artinya tidak mengingat sejarah dan mengabaikan setidak-tidaknya satu fakta sejarah: Allah pernah menghancurkan bumi sebelumnya yaitu peristiwa Nuh (ay. 5-6). ❷ Adakah Hari Esok? Kedatangan Kristus, pasti terjadi. Terkadang kedatangan Krsitus terasa amat jauh. Walaupun demikian, pasti akan terjadi. Tertundanya kedatangan Kristus kedua kali adalah perbuatan belas kasihan. Sementara kita bertanya-tanya seolah-olah tertunda. Ini bukan kelalaian tapi karena belas kasihan Allah (ay. 9). Allah memberi kesempatan, kelonggaran waktu kepada kita untuk kita berbalik dan bertobat. Tentang waktu dan ruang yang ada di dunia, waktu dihitung dengan cara yang berbeda (ay. 8). Ukuran Kristus datang adalah ukuran waktu Allah. Tuhan akan datang tiba-tiba dan tidak terduga. Kita tidak dapat mengabaikan atau menghindari kedatangan Tuhan kali kedua (ay. 10)

Dalam waktu-waktu ini apa yang sudah kita kerjakan? Akankah waktu ini kita pakai untuk menyenangkan Tuhan? Melakukan kehendakNya, memuliakanNya? Karena Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita. Sudahkah kita mengabarkan injil kepada orang lain? Atau kita hanya menanti tubuh kita semakin lemah saja? Mari kita gunakan hidup kita untuk meneladani Kristus. Hidup kita bukan hidup yang lama tapi hidup yang baru. Sehingga orang bisa melihat kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bagaimana memberitakan Injil kalau kita belum mengerti benar siapa Yesus? Mari kita memperkenalkan Yesus melalui sikap hidup kita, etika kita dan Roh Kudus akan menolong kita untuk dapat memberitakan Firman Tuhan. Kita harus mengingat kekudusan dan kesucian hidup kita. Jangan kita main-main dalam hidup kita. Kita tetap berjuang melawan masa lalu yang masih menghantui kita. ❸ Adakah Hari esok? Renungkanlah tingkah laku kita. Menanti kedatangan Kristus, kita harus hidup kudus, menjalani kehidupan Kristus seutuhnya. Kita juga hidup dalam pengharapan, sekalipun dunia ini membawa ancaman. Dalam hal ini juga hidup kita harus menjadi kesaksian bagi orang lain. Apalagi kita tahu bahwa penundaan adalah karena belas kasihan Allah maka kita juga melihat kasih Allah kepada orang lain. Jangan sampai orang melihat kita rajin ke gereja tapi sikap hidup kita tidak berkenan pada orang lain. Di luar gedung gereja pun kita hidup di dalam anugerah Allah. Kita bersaksi tidak ada batasnya sampai Yesus datang kedua kali. Setiap peristiwa dalam hidup kita dipakai sebagai kesaksian kepada orang lain. Sama seperti kehidupan Rasul Paulus yang ingin Tuhan mencabut duri dalam dagingnya. Meskipun Tuhan tidak mengabulkan tetapi Paulus tidak patah semangat.

Sudahkah kita menyaksikan Kristus kepada orang lain? Sudahkah ada jiwa yang kita selamatkan? Karena satu jiwa sangat berarti dan nanti Tuhan akan meminta pertanggung jawaban kita. Hari Tuhan ada dan pasti meskipun waktunya tidak pasti, tetapi mari kita tak jemu-jemu mencintai Firman Tuhan dan menikmati intimasi dengan Allah sebagai prioritas utama dibanding hal-hal lain di dunia. Kita hidup dalam masa perjuangan, tetapi Roh Kudus akan menguatkan kita.