Kumpulan Khotbah

17 Maret 2019

Misi Allah: Beritakan Injil

(Roma 1:14-17)

Misi Allah bagi umat-Nya di dunia ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu pemberitaan Injil dan perbuatan kasih. Perbuatan kasih dapat kita wujudkan dengan menjadi sesama manusia bagi orang-orang di sekitar kita. Kita dapat mencontoh dari kisah orang Samaria yang baik hati, dimana kasih itu bukanlah hanya menjadi prinsip hidup tetapi konkrit dalam perbuatan kita.
Selain perbuatan kasih, kita sebagai murid Yesus juga diharapkan untuk memberitakan Injil keselamatan. Injil (Yn. evangelion), seperti yang tertulis di Roma 1:1-4, adalah Kristus yang sudah dijanjikan melalui perantaraan nabi-nabi, lahir melalui keturunan Daud, dan bangkit dari antara orang mati, Anak Allah yang Maha Tinggi. Pada zaman Yunani kuno, kata injil sendiri dipakai untuk menandakan kabar/berita yang penting, yang berskala besar. Di zaman ini berita-berita besar lebih banyak memberitakan yang kurang menyenangkan, Injil merupakan berita baik yang sangat dibutuhkan dan ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya menjadi lambang pengharapan di tengah-tengah kesengsaraan dunia.
Hakikat Injil adalah sebagai berikut; bahwa Yesus telah mati oleh dosa manusia, telah bangkit dari antara orang mati, dan hidup bersama dengan Allah di surga selama-lamanya (1 Kor. 15:1-4). Roh Kudus membantu kita dengan menyaksikan kebenaran Injil dan kemuliaan Yesus melalui persekutuan kita dengan Tuhan, dalam mendengarkan dan merenungkan Firman.

10 Maret 2019

Tunduk Pada Pimpinan Tuhan

(Kisah Para Rasul 16:6-18)

Tunduk pada pimpinan Tuhan adalah kerinduan kita, bukan karena kita kuat tetapi Tuhanlah yang menggerakkan kita. Orang percaya dipanggil untuk tunduk kepada Sang Guru. Abraham Bapak orang beriman, Tuhan membimbingnya ke suatu tanah perjanjian. Tuhan Yesus tunduk kepada Bapa, Ia sunguh-sunguh mengerjakan panggilan untuk tunduk kepada Allah. Mengiring Tuhan tidak mudah butuh kehendak Tuhan, bergumul bagaimana orang yang dipimpin Tuhan mau bergaul dengan Tuhan. Pelayanan Paulus : Bersama Silas dan Timotius
❶ Peka kepada pimpinan Roh Kudus Ay 6,7, mencegah dan tidak mengizinkan Paulus dan rekan-rekannya memberitakan Injil di Asia kecil. Ay 9, Malam itu Paulus mendapat penglihatan tentang seseorang berseru kepadanya, “Menyeberanglah kemari ( Makedonia) dan tolonglah kami”. Rencana Paulus berubah begitu Allah menyatakan rencanaNya melalui penglihatan itu. Sesuatu yang berat untuk meresponinya, tempat yang tidak mudah untuk diterobos. Terkadang kita tidak menyukai berbagai liku-liku yang akan kita jumpai dalam perjalanan itu, tetapi Allah memberikan yang terbaik dan menuntun kita menuju kehendakNya. Setelah kita masuk dalam pimpinan Tuhan, belajarlah memelihara persekutuan dengan Tuhan. Pasal 18:23, perlu belajar dari Paulus dan Silas yang pernah menghadapi pergumulan yang sangat pelik, mereka dianiaya dan dipenjarakan namun mereka tidak meragukan pertolongan dari Tuhan, mereka tetap percaya kuasa Tuhan yang sanggup menolong mereka ditengah persoalan apapun.

3 Maret 2019

Kehidupan Manusia Allah

(Kisah Para Rasul 15:35-16:5)

Di tengah dunia yang semakin merosot secara moral dan rohani ini, sangat diperlukan orang-orang yang memiliki tipe sebagai MANUSIA ALLAH. MANUSIA ALLAH ini adalah mereka yang digerakkan oleh nilai kebenaran dan hormat kepada Tuhan. Lawan dari tipe ini adalah MANUSIA DUNIAWI (KOLOSE 3:5) – “Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang DUNIAWI, yaitu percabulan, kenajisan, Hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.” Sebutan “MANUSIA ALLAH” dikenakan kepada Timotius oleh Paulus dalam 1 TIMOTIUS 6:11. Ungkapan ini menunjuk kepada seseorang yang telah menjadi murid Kristus dan hidup bagi kemuliaan-Nya. Tujuan dan arah serta prioritas kehidupannya adalah untuk menyenangkan hati Tuhan. Inilah manusia Allah.
Mulai dari teks ini, Perjalanan Misi ke-2 dikerjakan oleh Paulus. ❶ Dipenuhi dengan Komitmen (35-41). Dalam teks ini, kita akan merenungkan liku-liku perjalanan pelayanan para Hamba Tuhan dan cara Tuhan menopang pekerjaan-Nya. Kita selalu berhadapan dengan berbagai jenis permasalahan. Ada yang ringan, ada juga yang sulit. Namun kewaspadaan agar persoalan tersebut tidak dipakai si jahat menjadi perhatian kita secara serius. Ketika orang Kristen dapat menyelesaikan setiap persoalannya dengan baik, di sinilah nama Tuhan dimuliakan. Jadi, komitmen di sini ialah: (a) Tetap berkomitmen kepada pelayanan; (b) Tetap berkomitmen kepada pentingnya pertobatan dan pemulihan. Di tengah perjalanan mengiring Tuhan, begitu banyak peperangan yang terus dihadapi. Mari kita belajar betapa penting meneladani kehidupan Tuhan Yesus.

24 Februari 2019

Persembahan Persepuluhan untuk Tuhan

(Im. 27:30-34; Ul. 14:22-23)

Ada berbagai konsep tentang persepuluhan untuk mendukung alasan tidak memberi persepuluhan: Latar belakang gereja. Tidak semua gereja sepakat untuk memberi persepuluhan maka tidak perlu menjalaninya. Hanya memperkaya Hamba Tuhan atau gereja. Persepuluhan bukanlah diserahkan kepada Hamba Tuhan tetapi kepada Tuhan melalui gerejaNya (Ul. 14:20). Hanya berlaku di zaman Perjanjian Lama. Yesus mengatakan orang Farisi hanya melakukan persepuluhan tetapi mengabaikan kasih dan keadilan. Jadi Yesus menegaskan harus melakukan keduanya bersama-sama (Luk. 11:42).
Konsep persepuluhan dalam Alkitab :
Allah selalu menghendaki penyerahan yang sungguh-sungguh kepadaNya karena kita adalah milikNya, termasuk segala hal yang kita miliki (Rm. 11:36). Tuhan menghendaki dari apa yang kita miliki kita memberikan ungkapan syukur kita kepada Tuhan yaitu penyerahan kembali. Dalam satu minggu, Ia menghendaki hari ketujuh kita khususkan bagi Dia: “Setiap anak sulung adalah kepunyaan Tuhan .” (Im. 27:26). Hidup kita ini adalah kepunyaan Tuhan dan dipersembahkan untuk Tuhan. Karena itu sepersepuluh itu tidak seberapa dibandingkan dengan seluruh hidup kita yang harus dipersembahkan kepada Tuhan (Rm. 12:1). Persembahan kita hanya sebagai bukti persembahan hidup kita kepada Tuhan.
1. Persepuluhan adalah milik Tuhan (Im. 27:30)
Persembahan persepuluhan disebut sebagai persembahan yang kudus. Bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih Tuhan bukan bangsa lain, mereka disebut bangsa pilihan untuk melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan. Sama seperti bangsa Israel dikuduskan oleh Tuhan, begitu jugalah persepuluhan itu dikuduskan untuk Tuhan dengan kesadaran semua berasal dari Tuhan. Persepuluhan kita melambangkan semua yang kita terima adalah kepunyaan Tuhan maka sebagai bukti kita mensyukuri apa yang kita terima, sepersepuluh kita khususkan, kuduskan untuk Tuhan. Persembahan berbau harum yang artinya supaya orang belajar memberi yang berkenan kepada Tuhan (Kej. 4:3-4). Persembahan menyenangkan hati Allah (Mal. 3:6-16). Malaekhi ditulis setelah bangsa Israel pulang dari pembuangan, ekonomi sulit sehingga mereka lebih mementingkan rumah sendiri sedangkan mereka lupa memberi persembahan bahkan persepuluhan. Melalui Firman ini Tuhan melatih dan menguji mereka. Setiap yang dipersembahkan kepada Tuhan adalah yang terbaik. Pada waktu kita memberi persembahan mari kita ingat yang menyenangkan hati Allah bukan hati manusia. Orang beriman semakin dilatih dan belajar memprioritaskan Tuhan dan hidup bergantung pada Tuhan. Setiap orang yang memberi persepuluhan adalah bentuk pengakuan bahwa Allahlah pemilik segala. Sumber satu-satunya kehidupan kita adalah Tuhan. Persepuluhan bukan persoalan hukum Taurat, jauh sebelumnya Abraham telah melakukannya (Kej.14:18-20). Abraham memberi teladan kepada kita, setiap hasil rampasannya setelah mengalahkan 4 raja diberikan kepada Allah. Abraham bertemu dengan Melkisedek yang merupakan manifestasi dari Kristus dan memberi sepersepuluh kepadanya sebagai bentuk kesadaran semua kemenangan dan sukses yang dia dapatkan terhadap raja-raja itu adalah dari Allah. Kita mengalami kesuksesan di Jepang ini adalah semua dari Allah sama seperti Abraham. Yakub memberi persepuluhan (Kej.28:22). Ketika Yakub di Betel dia berkata dari segala yang Tuhan berikan akan selalu memberi sepersepuluh padahal belum menerima berkat apapun. Sebelum menerima berkat dia berkomitmen dan setelah dapat berkat dia melakukannya. Meskipun Laban mengubah upah Yakub, tapi Yakub tetap diberkati Tuhan, Tuhan tidak pernah tutup mata.

17 Februari 2019

Misi Allah Melalui Nehemia Bagi Pemulihan Umat-Nya

(Nehemia 2:1-20)

Kita pasti tidak asing lagi mendengar nama Nehemia. Nehemia adalah salah satu tokoh Alkitab Perjanjian Lama yang kisahnya sering kali dikaitkan dengan pemulihan Yerusalem setelah diruntuhkan oleh Babel. Pada bacaan kali ini, kita dapat melihat latar belakang Nehemia, dan kita dapat belajar beberapa karakter Nehemia berkaitan dengan pemenuhan misi yang diberikan Allah baginya. Nehemia adalah seorang buangan Yahudi di Persia. Dia intim dengan Allah, dan juga adalah seorang kepercayaan raja Persia pada saat itu, dengan menjabat sebagai juru minum raja. Oleh karena keintimannya dengan Allah, Nehemia tidak membiarkan semua keberhasilannya di lingkungan orang-orang yang tidak percaya itu menjauhkannya dari Allah. Hubungan dengan Allah yang kuat inilah yang menjadi fondasi sikap/karakter Nehemia dalam menjalankan misi yang dibebankan Allah kepadanya :
1. Terbeban oleh keadaan umat-Nya. Kehancuran Yerusalem adalah akibat dari ketidaksetiaan orang-orang Yahudi pada saat itu. John Stuart Mill menekankan, “Satu orang yang mempunyai penyerahan sama dengan kekuatan 99 orang yang sekedar mempunyai ketertarikan.” Oleh karena ia sudah menjadi buangan di Persia, Nehemia tidak menyaksikan secara langsung kehancuran Yerusalem di tangan Babel. Meskipun demikian, ketika ia mendengar kabar hancurnya Yerusalem, ia turut merasakan kehilangan dan kesedihan, seperti layaknya hal tersebut terjadi menimpa dirinya sendiri. Dalam Neh. 1:4 tertulis Nehemia berkabung, berpuasa dan berdoa kepada Tuhan ketika ia mendengar kabar tersebut, menggambarkan keadaan hati Nehemia dan responsnya dalam menghadapi kabar yang menyedihkan itu, yaitu dengan meminta pertolongan kepada Allah. Ia berdoa memohon kemurahan-Nya dalam menggumuli bebannya untuk pemulihan Yerusalem. Ia tidak mengandalkan kekuatannya ataupun talenta yang ia miliki, tetapi langsung menyerahkan diri dan mengandalkan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan memberkati Nehemia ketika ia membawa pergumulannya itu ke hadapan raja Persia, dan dalam memenuhi panggilannya itu. Beban kepada umat Allah dan orang-orang yang ada di sekitar kita—terutama yang belum percaya—adalah bagian penting dari iman kita kepada Tuhan.

10 Februari 2019

Misi Allah: Menjadi Sesama Manusia

(Lukas 10:25-37)

Tema tahunan kita tahun ini adalah “Setia Berjalan dalam Misi Allah”. Misi berarti segala sesuatu yang ingin diperbuat umat di dunia ini kepada Allah. Itulah arti luasnya. Arti secara ilmu misilogi/alkitabiah:

Menyaksikan injil
Perbuat kasih sebagai tanggung jawab sosial bagi umat Tuhan (bagian yang akan dibahas kali ini)
Pada masa itu (ayat 25) ada orang ahli Taurat yang mencobai Yesus karena Yesus sudah banyak memberikan pengaruh. Maka ahli Taurat itu ingin mengetahui apakah Ia dari Allah atau dari manusia biasa.

Ahli taurat itu mempertanyakan mengenai apa yang ada di kitab Taurat. Mengenai: kasihilah Tuhan Allah dan sesama manusia. Ahli taurat mengutip dari kitab Ulangan 6:5 mengenai mengasihi Tuhan Allah, namun ada yang berbeda yaitu menambahkan kata: “akal budimu”. Namun tafsiran itu sama dengan tafsiran Yesus. Maka Yesus mengatakan untuk melakukan firman itu supaya hidup kekal. Poin yang lain adalah, meskipun ahli taurat itu mencobai Yesus, dan meskipun belum sepenuhnya benar apa yang disampaikan ahli taurat, Yesus menjawab dengan kasih dan kebijaksanaan dengan mengatakan “itu benar”. Marilah kita juga bersikap seperti Yesus ketika berkomunikasi dengan sesama kita dengan menunjukkan sikap yang baik.

Kembali ke cerita kitab hari ini. Mengenai ada orang dijalan yang dirampok dan terlihat seperti hampir mati. Tanggapan orang yang lewat:

Ia melihat orang itu. Orang itu hampir mati. Sesuai peraturan, imam tidak boleh menyentuh bangkai karena ia tidak dapat melaksakan tugas pelayanannya. Oleh karena itu imam itu melewatinya.
Orang Lewi. Ia melewatinya, karena melihat orang itu hampir mati. Pada saat itu jalanan sangat bahaya. Jaraknya jauh dan jalanan berbatu-batu. Jalan inipun itu juga disebut jalan penjarahan penuh sarang penyamun. Maka orang lewi itu takut jika ia juga dirampas/dirampok oleh para penjarah.
Orang Samaria. Orang Samaria ini dianggap suku hina oleh bangsa Israel/orang Yahudi, dan mereka juga dibenci oleh bangsa Yahudi, karena mereka sudah memiliki ibadah dan tempat ibadah sendiri. Orang Samaria dianggap keluar dan tidak menjadi bagian bangsa Israel kembali. Oleh karena itu Yesus memberikan contoh orang Samaria. Karena ia justru berbelas kasihan dan menolong dan meminyaki orang itu dengan minyak zaitun yang dianggap mengandung obat. Bahkan orang Samaria itu juga mengajaknya ke tempat penginapan dan merawatnya juga, bahkan masih memberikan uang lebih keesokan harinya.

3 Februari 2019

Menang Atas Konflik

(Kisah Para Rasul 15:12-32)

Konflik pasti muncul di tengah persekutuan, bahkan dalam rumah tangga sekalipun. Konflik menjadi hal yang lazim semenjak dosa masuk ke dalam dunia. Konflik pertama terjadi di Taman Eden, ketika Adam mempersalahkan Hawa dan Hawa mempersalahkan ular. Abraham dan keponakannya Lot juga mengalami konflik, ketika ternak mereka menjadi sangat banyak sehingga sulit bagi mereka hidup bersama-sama. Abraham mengalah dan mempersilahkan Lot memilih terlebih dahulu tempat tujuannya. Bukan hanya di Perjanjian Lama, tetapi di Perjanjian Baru pun terjadi konflik. Para murid sendiri pernah mengalami konflik ketika mereka mempermasalahkan mengenai siapa yang terbesar di antara mereka.
Pepatah Yahudi berkata: “Kontroversi lebih disukai daripada kuburan yang damai. Melalui kontroversi, kebenaran dikembangkan dan kesalahan dikalahkan. Kunci sebenarnya adalah memandang kepada KEBENARAN”. Martin Luther adalah seseorang yang berani berkonflik untuk membongkar kebusukan dan kebobrokan dalam gereja pada masa sebelum reformasi gereja. Dalam Kisah Para Rasul 15:22-41, Paulus dan Barnabas pernah mengalami konflik (perselisihan) yang tajam. Tetapi setelah konflik tersebut, pelayanan mereka semakin maju. Paulus sendiri kembali menerima dan mengasihi Markus, keponakan Barnabas, yang menjadi alasan Paulus dan Barnabas berselisih. Konflik itu ada dua jenis; konflik positif yang akan memberikan kemajuan atau konflik negatif yang akan mengakibatkan kemunduran. Konflik positif membuat orang bertobat, tetapi konflik negatif membuat orang mundur dari gereja. Konflik pernah terjadi di gereja mula-mula di Antiokhia. Di gereja di Antiokhia ada banyak suku bangsa, misalnya Yahudi dan Yunani. Jadi tidak ada satu gereja pun yang kebal terhadap konflik, bahkan gereja yang pengajarannya sangat baik sekali pun. Iblis selalu tahu bagaimana cara menimbulkan konflik di antara orang-orang Kristen. Anggota gereja di Antiokhia pada masa itu berasal dari golongan orang-orang Farisi yang telah menjadi Kristen dan masih memegang kuat tradisi Yahudi. Mereka mengharuskan orang-orang Yunani yang baru menjadi Kristen untuk disunat (ay. 5). Inilah awal mula timbulnya konflik di gereja Antiokhia.

27 Januari 2019

Tetap Berpegang pada Kebenaran Firman yang telah Diterima dan Diyakini

(2 Timotius 3:14-17)

Apa yang bisa kita pegang paling kuat atau paling lama? Apakah pasangan hidup, warisan, prestasi, kekuasaan, harta, ataupun teknologi? Semua hal ini tidaklah menjamin kita bisa tetap kuat atau teguh. Dalam surat 2 Timotius pasal 3 di ayat 14, Paulus mengingatkan Timotius agar berpegang teguh pada ajaran yang sudah ia terima. Dan jangan mengikuti orang-orang di ayat 13, yaitu yang jahat, menyesatkan dan disesatkan. (Dalam konteks pasal 3 ada kelompok orang-orang yang hanya mau mencari apa yang mereka sukai saja dan berpaling dari kebenaran yang sejati.) Demikian juga kita harus memegang, melanjutkan, tetap tinggal, tetap di dalam, kebenaran yang telah kita pelajari dan yakini.
Alasan Timotius harus berpegang pada kebenaran: ❶ Karakter orang-orang yang mengajar kebenaran (ayat 14-15). Yaitu neneknya, ibunya yang telah mengajarkan firman Tuhan supaya ia tetap teguh dan tidak menyimpang ataupun tertarik kepada arus dunia. Kehidupan Timotius dikelilingi oleh orang yang takut Tuhan dan mengajarkan kebenaran firman kepada Timotius sejak kecil dan menjadi contoh baginya. Inilah yang menjadi landasan bagi Timotius untuk mengenal firman Tuhan. ❷ Tanda kekudusan ilahi dalam alkitab (ayat 15a). ❸ Kekuatan alkitab untuk menyelamatkan orang berdosa (ayat 15b). Kitab Suci disini adalah heiros grammata atau Perjanjian Lama yang memiliki kekuatan untuk memberi hikmat yang mengarah pada keselamatan. Perjanjian Lama pun punya kekuatan dan potensi yang tidak dapat diremehkan karena terdapat gambaran tentang Tuhan, dosa, nubuatan akan Kristus dan karya keselamatannya yang dapat juga menuntun orang kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus. ❹ Alkitab membawa kita kepada Kristus (ayat 15c). ❺ Kitab suci diilhamkan Allah (ayat 16). Baik PL dan PB ditulis oleh para rasul, nabi, dan orang-orang yang dituntun oleh Allah (dalam bahasa aslinya Allah menafaskan firman-Nya menjadi tulisan) sehingga tidak saling bertentangan, yang cukup memperlengkapi kita untuk melakukan segala perbuatan baik. ❻ Alkitab pasti bermanfaat (menguntungkan) (ayat 16-17). Alkitab bermanfaat untuk mengajar dalam 3 hal: menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik di dalam kebenaran. Dan memperlengkapi kita untuk melakukan pekerjaan baik. Mzm 119:99,100,104 : firman Allah menegur kita akan dosa dan kesalahan kita agar kita berbalik kepada Allah. Mendidik : melatih secara terus menerus supaya mengerti dan menguasai Firman Tuhan, yakni menjalani dan mengalami Firman Tuhan itu bersama Tuhan. Tentu kita perlu tunduk pada setiap firman Tuhan itu seperti halnya dalam 2 Taw 34, Yosua berkomitmen mengikut Tuhan ataupun Nehemia yang memimpin pertobatan bangsa Israel.

20 Januari 2019

Nasehat untuk Tetap Setia Berjalan dalam Misi Allah

(2 Timotius 1:6-14)

Injil merupakan kabar dari Allah, jaminan kekal kekuatan bagi kita. Perkembangan ke-Kristenan bukan suatu hal yang mudah; berita Injil selalu saja mendapat penolakan keras dari pihak orang-orang yang tidak senang. Tidak semua orang Kristen siap mati bagi Injil.
Paulus menulis suratnya yang kedua kepada Timotius, pelayan yang setia dan tulus melakukan panggilannya dalam aksi-aksi pekabaran Injil, pembentukan Jemaat, ketika ia tengah menderita didalam penjara saat kesiapannya menghadapi hukuman mati pada pemerintahan Nero. Di tengah-tengah situasi yang krisis ini, Paulus menguatkan Timotius untuk tetap semangat.
Dalam 2 Timotius 1:6-8, Paulus menasihatkan, ”Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah”. Ayat ini merupakan motivasi Paulus terhadap Timotius yang saat itu masih muda dan kurang percaya diri, agar Timotius mengobarkan karunia Allah yang ada padanya dan kepercayaan yang sudah Paulus berikan. Beberapa kali Paulus menasihati Timotius supaya tidak malu dalam memberitakan Injil. Kelemahan yang ada dalam diri Timotius dan bagaimana Tuhan telah memakai dia, menjelaskan bahwa kuasa Tuhan sanggup mengatasi kelemahan-kelemahan kita. Memasuki tahun 2019, mari kita mengobarkan kembali gairah untuk tetap setia berjalan dalam Misi Allah. Jangan menyerah pada kelemahan, lakukan apa yang dapat kita lakukan bagi Tuhan dan Ia yang akan melakukan bagianNya serta memampukan kita mengatasi kelemahan tersebut.

13 Januari 2019

Setia Berjalan dalam Misi Allah

(2 Timotius 4 :1-2)

Tema seluruh GIII 2019 adalah setia berjalan dalam misi Allah. Kesetiaan adalah lanjutan dari 2018. Tapi kali ini tujuannya adalah misi Allah. Dalam teks firman hari ini, Rasul Paulus menulis surat secara pribadi kepada muridnya Timotius yang menjadi gembala di Efesus, masih muda dan kurang pengalaman. Surat dari senior kepada seorang hamba Tuhan muda.
Dikatakan, beritakanlah firman. Firman Tuhanlah dasar kehidupan orang beriman. Firmanlah penunjuk, pengajar kehidupan orang percaya. Mzm 119:105 yang terkenal mengatakan FirmanMu itu pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku. Dan tentang firman Tuhan sebelum pasal 4 ini, yaitu di 2 Tim 3:16, Paulus menekankan lagi, beritakanlah Firman. Ini tugas utama dari Paulus, dan penting bagi jemaat supaya bertahan, bertumbuh, hidup dalam iman. Baik atau tidak baik waktunya, artinya selalu, beritakanlah firman. Dalam tahun ini kita lebih maju, lebih dalam membaca firman. Ada 66 kitab dalam Alkitab. Apakah sudah pernah baca semua? Firman Tuhan begitu indah, dalam , dan kaya. Tapi kalau kita tidak baca seluruhnya, betapa sayangnya. Itu pusaka kita. Itu harta kekayaan kita secara rohani. Maka mari membaca firman setiap hari secara teratur. Alkitab terdiri dari 4 bagian, yaitu 3 bagian di perjanjian lama (kitab sejarah (Kej-Ester), kitab syair (dari Ayub – Kidung agung, kitab nabi-nabi (Yesaya-Maleakhi), dan 1 perjanjian baru. Jika dari 4 bagian Alkitab in kita baca setiap hari satu pasal dari setiap bagian akan jarang macet.
Nyatakanlah. Dalam Bahasa Inggris dikatakan bring to light, bawa ke dalam terang. Dalam hati manusia ada yang sukar dibawa ke terang. Betapa licik hati, lebih licik dari segala sesuatu. Dunia ini penuh dengan godaan, kelicikan, kalau hati kita belum diterangi, gampang sekali terpengaruh. Maka istilah tegur, artinya marah, keras. Kitab nabi Yesaya pasal 1-39, penuh dengan bagaimana Tuhan marah kepada bangsa Israel. Tetapi selalu ada janji Tuhan. Ada terang, ada pemulihan. Dan Tuhan mengajak, kembalilah kepadaku. Kita bersyukur ada yang menegur kita. Bagi pendeta, tugas khotbah itu g.ampang. Tapi salah satu tugas yang paling susah adalah menegur, karena jarang diterima. Kita baca Firman, Roh Kudus yang bicara, dan Firman Tuhan lah yang menyatakan kesalahan.

Page 1 of 45